Jumat, 13 Juli 2012

Salamah Bin Dinar


SALAMAH BIN DINAR




Pada tahun 97 H, khalifah muslimin, Sulaiman bin Abdul Malik menempuh perjalanan ke negeri yang disucikan, memenuhi undangan bapak para nabi, yakni Ibrahim As. Iring-iringan itu bergerak dengan cepat dari Damaskus, ibukota kekhalifahan Umawiyah, menuju Madinah Al-Munawarah.

Ada rasa rindu pada diri khalifah di raudhah nabawi yang suci dan rindu untuk mengucapkan salam atas Muhammad Rasulullah saw. Rombongan tersebut disertai para ahli qurra’ (ahli Al-Qur’an), muhadditsin (ahli hadits), fuqaha (ahli fikih), ulama, umara’ dan para perwira.

Setibanya khalifah di Madinah dan menurunkan perbekalan, orang-orang dan para pemuka Madinah menghampiri mereka untuk mengucapkan salam dan menyambut khalifah.

Akan tetapi Salamah bin Dinar sebagai Qadhi dan Imam kota yang terpercaya, ternyata tidak termasuk dalam rombongan manusia yang turut menyambut dan mengucapkan salam kepada khalifah.

Setelah selesai melayani orang-orang yang menyambutnya, Sulaiman bin Abdul Malik bertanya kepada orang-orang yang dekat dengannya, “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang mengingatkan dan membersihkan karatnya.” Mereka berkata, “Benar wahai amirul mukminin.” Lalu beliau berkata, “Tidak adakah di Madinah seorang yang bisa menasihati kita, seseorang yang pernah berjumpa dengan para sahabat Rasulullah?” Mereka menjawab, “Ada wahai amirul mukminin, di sini ada Abu Hazim Al-A’raj.”

Beliau bertanya, “Siapa itu Abu Hazim?” Mereka menjawab, “Dialah Salamah bin Dinar, seorang alim, cendekia dan imam di kota Madinah. Beliau termasuk salah satu tabi’in yang pernah bersahabat baik dengan beberapa sahabat utama.” Khalifah berkata, “Kalau begitu, panggillah beliau kemari, namun berlakulah sopan kepada beliau!”

Para pembantu dekat khalifah pun pergi memanggil Salamah bin Dinar.

Setelah Abu Hazim datang, khalifah menyambut dan membawanya ke tempat pertemuannya.

Khalifah, “Mengapa Anda demikian angkuhnya terhadapku wahai Abu Hazim?”

Abu Hazim, “Angkuh yang bagaimana yang Anda maksud dan Anda lihat dari saya wahai amirul mukminin?”

Khalifah, “Semua tokoh Madinah datang menyambutku, sedangkan Anda tak menampakkan diri sama sekali.”

Abu Hazim, “Dikatakan angkuh itu adalah setelah perkenalan, sedangkan Anda belum mengenal saya dan saya pun belum pernah mengenal Anda. Maka keangkuhan mana yang telah saya lakukan?”

Khalifah, “Benar alasan Syaikh dan khalifah telah salah berprasangka. Dalam benakku banyak masalah penting yang ingin aku utarakan kepada Anda wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim, “Katakanlah wahai amirul mukminin, Allah tempat memohon pertolongan.”

Khalifah, “Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?”

Abu Hazim, “Karena kita memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita. Akhirnya kita benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”

Khalifah, “Anda benar. Wahai Abu Hazim, apa bagian kita di sisi Allah kelak?”

Abu Hazim, “Bandingkan amalan Anda dengan Kitabullah, niscaya Anda bisa mengetahuinya.”

Khalifah, “Dalam ayat yang mana saya dapat menemukannya?”

Abu Hazim, “Anda bisa temukan dalam firman-Nya yang suci, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka,” (Al-Infithar: 13-14).

Khalifah, “Jika demikian, dimanakah letak rahmat Allah?”

Abu Hazim, (membaca firman Allah), “Sesungguhnya rahmat Allah dekat sekali dengan mereka yang berbut kebajikan.”

Khalifah, “Lalu bagaimana kita menghadap kepada Allah kelak, wahai Abu Hazim?”

Abu Hazim, “Orang-orang yang baik akan kembali kepada Allah seperti perantau yang kembali kepada keluarganya, sedangkan yang jahat akan datang seperti budak yang curang atau lari lalu diseret kepada majikannya dengan keras.”

Khalifah menangis mendengarnya sampai keluar isaknya kemudian berkata,

Khalifah, “Wahai Abu Hazim, bagaimana cara memperbaiki diri?”

Abu Hazim, “Dengan meninggalkan kesombongan dan berhias dengan muru’ah (menjaga kehormatan).”

Khalifah, “Bagaimana cara memanfaatkan harta benda agar ada nilai takwa kepada Allah?”

Abu Hazim, “Bila Anda mengambilnya dengan cara yang benar dan meletakkan di tempat yang benar pula, lalu Anda membaginya dengan merata dan berlaku adil terhadap rakyat.”

Khalifah, “Wahai Abu Hazim, jelaskan kepadaku, siapakah manusia yang paling mulia?”

Abu Hazim, “Yaitu orang-orang yang menjaga mur’ah dan bertakwa.”

Khalifah, “Lalu perkataan apa yang paling besar manfaatnya?”

Abu Hazim, “Perkataan yang benar, yang diucapkan di hadapan orang yang ditakuti dan diharap bantuannya.”

Khalifah, “Wahai Abu Hazim, do’a manakah yang paling mustajab?”

Abu Hazim, “Do’anya orang yang baik untuk orang yang baik.”

Khalifah, “Sedekah manakahnya yang paling utama?”

Abu Hazim, “Sedekah dari orang yang kekurangan kepada orang yang memerlukan tanpa menggrutu dan kata-kata yang menyakitkan.”

Khalifah, “Wahai Abu Hazim, siapakah orang yang paling dermawan dan terhormat?”

Abu Hazim, “Orang yang menemukan ketaatan kepada Allah, lalu diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.”

Khalifah, “Siapakah orang yang paling dungu?”

Abu Hazim, “Orang yang terpengaruh oleh hawa nafsu kawannya padahal kawannya tersebut orang yang zhalim. Maka pada hakikatnya dia menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia orang lain.”

Khalifah, “Wahai Abu Hazim, maukah engkau mendampingi kami agar kami bisa mendapatkan sesuatu darimu dan Anda mendapatkan sesuatu dari kami?”

Abu Hazim, “Tidak, wahai amirul mukminin.”

Khalifah, “Mengapa?”

Abu Hazim, “Saya khawatir kelak akan condong kepada Anda sehingga Allah menghukum saya dengan kesulitan di dunia dan siska di akhirat.”

Khalifah, “Utarakanlah kebutuhan Anda kepada kami wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim tidak menjawab sehingga khalifah mengulami pertanyaannya, “Wahai Abu Hazim, utarakan hajat-hajatmu, kami akan memenuhi sepenuhnya.”

Abu Hazim, “Hajat saya adalah selamat dari api neraka dan masuk surga.”

Khalifah, “Itu bukan wewenang kami, wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim, “Saya tidak memiliki keperluan selain itu wahai amirul mukminin.”

Khalifah, “Wahai Abu Hazim, berdo’alah untukku.”

Abu Hazim, “Ya Allah, bila hamba-Mu Sulaiman ini adalah orang yang Kau cintai, maka mudahkanlah baginya jalan kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jika dia termasuk musuh-Mu, maka berilah dia hidayat kepada apa yang Engkau sukai dan Engkau ridhai, Amin.”

Salah satu hadirin berkata, “Alangkah buruknya perkataanmu tentang amirul mukminin. Engkau sebutkan khalifah muslimin barangkali termasuk musuh Allah, kamu telah menyakti perasaannya.”

Abu Hazim, “Justru perkataanmu itulah yang buruk. Ketahuilah bahwa Allah telah mengambil janji dari para ulama agar berkata jujur, ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,’ (Ali Imran: 187).”

Beliau menoleh kepada khalifah seraya berkata, “Wahai amirul mukinin umat-umat terdahulu tinggal dalam kebaikan dan kebahagiaan selama para pemimpinnya selalu mendatangi ulama untuk mencari kebenaran pada diri mereka. Kemudian muncullah kaum dari golongan rendah yang mempelajari berbagai ilmu mendatangi para amir untuk mendapatkan sesuatu kesenangan dunia. Selanjutnya para amir tak lagi menghiraukan perkataan para ulama, maka mereka pun menjadi lemah dan hina di mata Allah. Seandainya segolongan ulama itu tidak tamak terhadap apa yang ada di sisi para amir, tentulah amir-amir tersebut akan mendatangi mereka untuk mencari ilmu. Tetapi karena para ulama menginginkan apa yang di sisi para amir, maka para amir tak mau lagi menghiraukan ucapannya.”

Khalifah, “Anda benar. Tambahkanlah nasihat untukku, wahai Abu Hazim, aku benar-benar tidak mendapati hikmah yang lebih dekat dengan lidahnya daripada Anda.”

Abu Hazim, “Bila Anda termasuk orang yang suka menerima nasihat, maka apa yang saya  utarakan tadi cukuplah sebagai bekal. Tetapi bila tidak dari golongan itu, maka tidak perlulah aku memanah dengan busur yang tidak ada talinya.”

Khalifah, “Wahai Abu Hazim, aku berharap Anda mau berwasiat kepadaku.”

Abu Hazim, “Baiklah, akan saya katakan dengan ringkas. Agungkanlah Allah dan jagalah jangan sampai Dia melihat Anda dalam keadaan yang tidak disukai-Nya dan tetaplah Anda berada di tempat yang diperintahkan-Nya.”

Setelah itu, Abu Hazim mengucapkan salam dan mohon diri. Khalifah berkata, “Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan wahai seorang alim yang suka menasihati.”

Setibanya di rumah, Abu Hazim mendapati sekantung dinar dari amirul mukminin yang disertai surat berbunyi, “Pergunakanlah harta ini, dan bagi Anda masih ada persediaan yang semisalnya di sisiku.” Namun beliau mengembalikan harta tersebut disertai surat balasan,

“Wahai amirul mukminin, saya berlindung kepada Allah apabila pertanyaan-pertanyaan Anda kepada saya hanya Anda anggap iseng dan jawaban saya pun bathil. Demi Allah, saya tidak rela hal itu terjadi pada diri Anda, lalu bagaimana saya bisa merelakannya untuk diri saya sendiri? Wahai amirul mukminin, bila dinar-dinar ini adalah imbalan atas kata-kata yang saya sampaikan kepada Anda, maka memakan bangkai dang daging babi dalam keadaan terpaksa adalah lebih halal daripadanya. Namun apabila ini memang hak saya dari Baitul Mal Muslimin, apakah Anda memberikannya sama besar dengan bagian muslimin yang lainnya?”

Tempat tinggal Salamah bin Dinar adalah madrasah yang cocok bagi siapapun yang ingin menuntut ilmu dan menghendaki kebaikan. Tidak ada bedanya baik saudara ataupun muridnya.

Pernah suatu ketika Abdurrahman bin Jarir datang bersama anaknya. Keduanya mengambil tempat duduk di sisi beliau dan memberi salam kemudian mendoakan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk beliau.

Keduanya disambut oleh Abu Hazim dan beliau membalas dengan salam yang lebih baik. Kemudian terjadilah perbincangan antara mereka.

Abdurrahman, “Wahai Abu Hazim, bagaimana Anda mendapatkan hati  yang hidup itu?”

Abu Hazim, “Dengan membersihkan diri dari dosa-dosa besar. Bila seorang hamba bertekad meninggalkan dosa, maka terbukalah baginya kehidupan hati. Jangan pula dilupakan, wahai Abdurrahman, sedikit dari dunia ini melalaikan banyak dari akhirat kita. Dan setiap nikmat yang tidak mendekatkan engkau kepada Allah, maka itu menjadi siksa bagimu.”

Putra Abdurrahman, “Guru kita amatlah banyak. Lalu siapakah diantara mereka yang harus dijadikan teladan, wahai ayah?”

Abdurrahman, “Wahai putraku, ambillah teladan dari mereka yang takut kepada Allah dalam keadaan sembunyi, mereka yang menahan diri dari keburukan, memperbaiki diri di masa muda dan tidak menunda hingga datang hari tuanya. Ketahuilah wahai anakku, tidak ada satu hari di mana matahari terbit kecuali datang kepada penuntut ilmu tersebut nafsu dan ilmunya. Keduanya saling berlomba untuk mengalahkan  di dalam dirinya. Bila ilmunya menang atas nafsunya, maka itulah hari keberentungan baginya. Tetapi bila nafsunya yang mengalahkan ilmunya, maka itulah hari kerugiannya.”

Kemudian Abdurrahman menoleh kepada Abu Hazim sambil berkata, “Wahai Abu Hazim, seringkali kita memperoleh sesuatu yang harus kita syukuri. Lantas bagaimana sebenarnya hakikat syukur itu?”

Abu Hazim, “Untuk setiap bagian dari tubuh kita adalah syukur.”

Abdurrahman, “Bagaimana cara mensyukuri kedua mata kita?”

Abu Hazim, “Bila melihat kebaikan, engkau menyebarkannya, dan bila melihat keburukan, engkau menutupinya.”

Abdurrahman, “Bagaimana cara bersyukur dengan kedua telinga kita?”

Abu Hazim, “Bila mendengar kebaikan, engkau tersadar dan bila mendengar kejahatan, engkau menyembunyikannya.”

Abdurrahman, “Bagaimana syukurnya kedua tangan?”

Abu Hazim, “Jangan menggunakannya untuk mengambil yang bukan hakmu dan jangan kau pakai untuk menghalangi hak-hak Allah. Jangan lupa wahai Abdurrahman, bahwa siapa yang membatasi syukurnya hanya dengan lidahnya tanpa menyertakan anggota badannya, maka dia seperti seorang yang memiliki pakaian yang hanya dibawa dengan tangannya namun dia tidak memakainya. Maka dia tidak bisa terhindar dari terik matahari dan hawa dingin.”

Suatu ketika Salamah bin Dinar menyertai pasukan muslimin menuju wilayah Romawi untuk berjihad fi sabilillah. Setelah mencapai pos terakhir perjalanannya, pasukan beristirahat terlebih dahulu sebelum menghadapi musuh dan terjun dalam kancah peperangan.

Pasukan itu dipimpin oleh seorang komandan dari Bani Umayah. Pada kesempatan ini, dia  mengutus seseorang kepada Abu Hazim.

Utusan itu berkata, “Amir memanggil Anda agar Anda membacakan hadits kepada beliau dan ingin belajar dari Anda.”

Maka Abu Hazim menulis surat untuk disampaikan kepada komandan pasukan, berbunyi sebagai berikut, “Wahai  komandan, saya sudah pernah berjumpa dengan para ahli ilmu dan mereka tidak pernah membawa ilmunya kepada orang-orang yang mengutamakan dunia. Saya rasa Anda juga tak ingin saya menjadi orang  yang berbuat demikian. Bila Anda memerlukan saya, datanglah kemari. Semoga keselamatan bagi Anda dan orang-orang di sekeliling Anda.

Setelah membaca surat itu, komandan pasukan mendatangi Abu Hazim. Dia memberi salam lalu berkata, “Wahai Abu Hazim, kami sepakat dengan apa yang Anda tulis itu. Kami hargai nasihat Anda. Tambahkanlah peringatan dan nasihat kepada kami, semoga Anda mendapatkan balasan dengan lebih baik.”

Kemudian Abu Hazim memberikan peringatan dan nasihat-nasihatnya. Di antara yang beliau sampaikan adalah, “Perhatikanlah apa yang Anda sukai kelak di akhirat, kemudian bersemangatlah untuk mendapatkannya. Perhatikan pula hal-hal yang tidak Anda sukai di sana, maka berzuhudlah terhadapnya di dunia ini. Ketahuilah wahai komandan, bila kebatilan lebih Anda sukai dan Anda biarkan merajalela, maka yang akan datang dan mengelilingi Anda adalah orang-orang yang bathil dan munafiq. Bila kebenaran yang lebih Anda sukai, niscaya Anda akan dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan suka membantu. Oleh sebab itu, pilihlah mana yang lebih Anda sukai.”

Ketika menjelang ajal, Abu Hazim Al-A’raj ditanya oleh para sahabat beliau, “Bagaimana keadaan Anda wahai Abu Hazim?” beliau berkata, “Bila kita selamat dari keburukan dunia ini, maka tiadalah memadharatkan kita apa yang tidak kita dapatkan di dunia?” Lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala,“Sesungguhnya orang-orang yang berimana dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang,” (Maryam: 96).

Beliau mengulang-ulang ayat tersebut hingga ajal menjemputnya.
Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, terj. Abu Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), hlm. 163-172.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar