Senin, 11 Juni 2012

Ayat-ayat al Quran


Ayat-Ayat Al-Qur'an
yang Diakhiri
dengan
Asmaul Husna


Ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang diakhiri dengan Asmaul Husna
menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut
memiliki keterkaitan dengan nama Allâh Ta'ala tersebut.


Ini adalah kaidah yang sangat mendalam dan bermanfaat. Bila ditelusuri pada seluruh ayat yang diakhiri dengan nama-nama Allâh Ta'ala (Asmaul Husna), niscaya akan kita dapati adanya kesesuaian yang sangat tepat yang menunjukkan bahwa syariat, perintah dan penciptaan; semua itu muncul dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, sekaligus berkaitan erat dengannya.
Pembahasan tentang sifat-sifat Allâh Ta'ala dan hukum-hukum-Nya termasuk pengetahuan dan ilmu yang paling mulia. Kita dapati ayat-ayat tentang rahmat Allâh Ta'ala, diakhiri dengan nama-nama-Nya yang mengandung sifat Rahmat. Ayat-ayat hukuman dan adzab ditutup dengan nama-nama yang memuat sifat Keperkasaan, Kedigdayaan, Kebijaksanaan, Ilmu dan Kekuasaan.
Perkara ini menjadi semakin penting karena jarang kitab-kitab tafsir yang membahas kaidah ini. Berikut ini beberapa contoh untuk menjelaskan kaidah di atas:
Allâh Ta'ala berfirman:
“(Dia-lah Allâh) yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
(Qs al-Baqarah/2:29)

Pembunuh 100

PEMBUNUH SERATUS NYAWA



Pengantar

Laki-laki ini tenggelam di dalam dosa. Dia telah membunuh seratus orang. Membunuh adalah perkara besar di sisi Allah, dosa agung di sisi-Nya. Akan tetapi, tidak ada dosa yang pelakunya tidak tercakup oleh rahmat Allah. Allah mengampuni seluruh dosa jika seorang hamba kembali kepada-Nya dan bertaubat. Manakala laki-laki yang bermandikan darah seratus orang in mengetuk pintu Tuhannya dengan benar, dia kembali kepada-Nya dengan penuh taubat. Maka Allah mengampuni dan menyayanginya.

Teks Hadis

Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Said Al-Khudri dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, "Pada Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang telah membunuh seratus orang. Lalu dia pergi bertanya dengan mendatangi seorang rahib. Dia bertanya, 'Adakah taubat untukku?' Dia menjawab, 'Tidak ada.' Maka dia membunuhnya.
Dia bertanya-tanya, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, 'Datanglah ke desa ini dan ini.' Saat dalam perjalanan itulah dia dijemput oleh maut. Maka malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih. Maka Allah mewahyukan kepada ini, 'Mendekatlah.' Dan Allah mewahyukan kepada ini, 'Menjauhlah.' Lalu berkata, 'Ukurlah antara keduanya. Maka dia lebih dekat kepada ini(desa yang dituju) satu jengkal. Dan dia diampuni."
Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabiyullah bersabda, "Pada umat sebelum kalian terdapat seorang laki-laki pembunuh sembilan puluh sembilan nyawa. Dia bertanya tentang penghuni bumi yang paling alim(pintar). Dia ditunjukkan kepada seorang rahib, dan dia mendatanginya. Dia berkata bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, maka adakah taubat untuknya? Rahib itu menjawab, 'Tidak.' Dan dia membunuhnya untuk menggenapkan hitungan menjadi seratus.
Kemudian dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling alim. Dia pun ditunjukkan kepada seorang alim. Dia berkata bahwa dia telah membunuh seratus orang, lalu apakah dia masih bisa bertaubat? Dia menjawab, 'Ya, siapa yang menghalanginya dari taubat. Pergilah ke kota ini dan ini, karena di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Jangan pulang ke kotamu karena ia adalah kota yang buruk.'
Lalu dia berangkat. Di tengah perjalanan, dia mati. Malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih

Orang yang Kehilangan

ORANG YANG KEHILANGAN UNTA DI TANAH SUNYI


Pengantar

Ini adalah kisah seorang laki-laki yang kehilangan untanya di tanah yang sunyi lagi sepi. Lalu dia tidur, tapi tiba-tiba unta itu sudah berdiri di depan matanya. Saking bahagianya dia berucap, "Kamu adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu." Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan bahwa Allah lebih berbahagia terhadap taubat seorang hamba daripada orang yang menemukan kembali untanya yang hilang ini.

Teks Hadis

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Samak berkata bahwa Nu'man bin Basyir berkhutbah, "Sungguh, Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya daripada seorang laki-laki yang membawa makanan dan minumnannya di atas punggung unta, kemudian dia berjalan. Sesampainya di daerah yang sepi, datanglah waktu untuk qoilulah(tidur siang). Dia turun dan ber-qoilulah di bawah pohon. Dia tertidur dan untanya pergi meninggalkannya. Dia terbangun lalu berjalan beberapa jarak, tetapi dia tidak menemukan apa pun. Kemudian dia berjalan beberapa jarak untuk kedua kalinya, tetapi dia tetap tidak menemukan apa pun. Lalu dia berjalan beberapa jarak untuk ketiga kalinya, tetapi dia masih tidak menemukan apa pun. Dia kembali mendatangi tempat di mana dia beristirahat siang. Manakala dia sedang duduk, tiba-tiba untanya datang berjalan hingga dia menjatuhkan tali kekangnya di depannya. Sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hamba daripada orang ini manakala dia menemukan unta."
Samak berkata, "Sya'bi mengklaim bahwa Nu'man menyandarkan Hadis ini kepada Nabi. Adapun aku tidak mendengarnya.

Sa'id

 SA'ID BIN MUSAYYIB
(Sayyidut Tabi'in)


Suatu tahun, Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan berhasrat untuk menunaikan haji ke Baitullah Al-Haram dan berziarah ke Haraimain yang mulia dan mengucapkan salam kepada Rasulullah saw.

Sampailah bulan Dzul Qa’dah, beliau berangkat menuju ke bumi Hijaz disertai tokoh-tokoh bani umayyah, para gubernurnya, pejabat pemerintah dan sebagian anaknya. Rombongan bertolak dari Damskus ke Madinah Al-Munnawarah tanpa tergesa-gesa. Tiap kali singgah atau di suatu tempat atau wilayah, mereka berisitirahat sambil mengadakan majelis ilmu dan saling memberikan peirngatan agar bertambah pengetahuannya tentang din dan mengisi jiwa dengan mutiara hikmah dan nasihat yang baik.

Sampailah rombongan tersebut di Madinah Al-Munawarah, Amirul Mukminin menuju tempat suci untuk memberi salam kepada penghuninya, Muhammad saw. Kemudian beliau melakukan shalat di Raudhah Asy-Syarifah. Beliau merasakan kesejukan, ketenangan dan ketentraman jiwa yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Ingin rasanya beliau memperpanjang waktu kunjungannya di kota Rasulullah itu seandainya ada waktu luang.

Pemandangan yang paling mengesankan dan menarik perhatiannya di Madinah Al-Munawarah itu adalah banyaknya halaqah ilmu yang memakmurkan masjid Nabawi. Di sana berkumpul para ulama besar dan tokoh-tokoh tabi’in bagaikan bintang-bintang bercahaya di ufuk langit. Ada halaqah Urwah bin Zubair, ada halaqah Sa’id bin Musayyab, dan ada halaqah Abdullah bin Utbah.

Suatu hari Amirul Mukminin terbangun dari tidur siangnya tiba-tiba, tidak seperti biasa. Lalu dipanggilnya penjaga, “Wahai Maisarah!” Maisarah menjawab, “Saya wahai Amirul Mukminin.” Beliau berkata, “Pergilah ke masjid Nabawi dan undanglah salah satu ulama yang berada di sana untuk memberikan peringatan kepada kita.”

Kopi Luwak

HUKUM KOPI LUWAK
Dr. Ahmad Zain An Najah


Pengertian Kopi Luwak

Kopi Luwak adalah kopi yang diproduksi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan binatang bernama luwak. Dan luwak adalah sejenis musang, karenanya biasa dikatakan musang luwak. Dia senang sekali mencari buah-buahan yang cukup baik dan masak, termasuk buah kopi sebagai makanannya. Luwak akan memilih buah kopi yang betul-betul masak sebagai makanannya, dan setelahnya, biji kopi yang dilindungi kulit keras dan tidak tercerna akan keluar bersama kotoran luwak.[1]

Berdasarkan keterangan di atas maka kopi luwak hukumnya dikembalikan kepada dua masalah : Apakah musang itu halal dimakan ataukah tidak? Dan apakah kotorannya suci ataukah najis?

Hukum Daging Luwak

Musang luwak adalah hewan menyusu (mamalia) yang termasuk suku musang dan garangan (Viverridae). Nama ilmiahnya adalah Paradoxurus hermaphroditus dan di Malaysia dikenal sebagai musang pulut. Hewan ini juga dipanggil dengan berbagai sebutan lain seperti musang (nama umum, Betawi), careuh (Sunda), luak atau luwak (Jawa), serta common palm civet, common musang, house musang atau toddy cat dalam bahasa Inggris.[2]

Di desa-desa luwak dikenal sebagai binatang yang suka memangsa ayam, sehingga sering dikejar-kejar oleh penduduk desa. Tetapi sebenarnya, luwak lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan, seperti buah pepaya, pisang, bahkan coklat. Luwak juga suka makan serangga, cacing tanah, kadal serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.

Pertanyaannya, apakah luwak termasuk binatang buas yang haram untuk dimakan ? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini :

Umar Bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz (Tiga Peristiwa Penting Bersama Beliau) 

Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya


Berita tentang khalifah tabi’in Umar bin Abdul Aziz ini penuh dengan perjalanan yang mengesankan. Setiap Anda selesai membaca satu lembar kisah hidupnya, maka hati akan tergerak untuk mengetahui lembar berikutnya. Lembar-lembar yang semakin kaya akan keindahan… makin ke dalam semakin menakjubkan.

Telah kami kisahkan tiga peristiwa yang menggambarkan kehidupan khalifah rasyidah yang kelima ini pada bab terdahulu. Maka marilah kita nikmati sekarang tiga peristiwa lain yang tak kalah menarik dan mengesankan dari yang telah kami ceritakan di depan.

Kisah pertama, diceritakan oleh Dukain bin Sa’id Ad-Darimi seorang penyair tersohor, dia berkata:

“Suatu ketika saya mendatangi Umar bin Abdul Aziz sewaktu masih menjadi gubernur Madinah, aku diberi hadiah 15 ekor pilihan. Setelah berada di tanganku, aku memperlihatkannya, aku merasa kagum melihatnya, aku menjadi khawatir membawanya pulang ke desaku seorang diri, sedangkan aku merasa sayang untuk menjualnya.

Ahnaf Bin Qais

AHNAF BIN QAIS (Pemimpin Bani Tamim)
Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya


Ketika itu, kota Damaskus sedang tersenyum manis menyambut datangnya musim semi. Berbangga dengan kesuburan tanah dan taman-tamannya yang indah berseri.

Hari itu Amirul Mukminin Muawiyah bin Abi Sufyan sedang bersiap menerima para utusan di istana. Ketika kesempatan pertama dibuka, Ummul Hakam binti Abi Sufyan segera menempati tempat duduknya di balik tabir. Dari situ dia bisa mendengarkan pembicaraan-pembicaraan dalam majelis kakaknya tentang hadits-hadits Nabi saw. Dia mengisi dirinya dengan apa-apa yang didengarnya dari penasihat istana, laporan tentang berbagai hal, berita  yang aneh-aneh, syair-syair yang indah atau hikmah-hikmah yang luhur.

Putri bangsawan ini sangat cerdas dan bersemangat untuk mencapai ketinggian martabat. Sementara kakaknya menerima orang-orang yang menghadap berdasarkan kedudukannya. Sahabat-sahabat Rasulullah aw. Selalu didahulukan dari yang lain, baru kemudian menyusul tokoh-tokoh tabi’in, para ulama dan kalangan bangsawan.